Bilangan Fu
October 10, 2008 by nisaika
Apakah fu apakah hu? Tapi bukankan fu memiliki kemiripan dengan hu seperti orang jepang menyebut kohi untuk coffe
Sudah lama saya tak membaca tulisan Ayu Utami. Dan, saya seperti rindu. Saman (1998) & Larung (2001) telah mencuri hati saya. Kini dihadapan saya, dia-Ayu Utami, menjelma kembali. Dalam Bilangan Fu, dalamYuda, Marja & Parang Jati.
Pada mereka, pada buku ini saya merapat. Saya gelisah mencari bagian hati yang telah tercuri. Mencari, selalu, yang membuat saya jatuh hati. Kalimat tegas yang berhenti tajam atau yang tiba2 meliuk -membelok menukik- ke dalam.
Satria pemanjat, kekasih dan sabahat. Dan demikianlah cerita berpusat diantara mereka bertiga. Mengalir pada sebuah kerangka cerita yang mengusung tema post modern, dengan tiga isu utama Modernisme, Militerisme dan Monoteisme.
Dalam loncatan-loncatan cerita yang secara mengejutan mengait satu sama lain. Konservasi bukit kapur, peristiwa pembunuhan dukun santet, konflik TNI-Polri, sejarah angka dan babad tanah jawi.
Cerita yang mewujud seolah nyata dengan bingkai peristiwa-peristiwa riil di Indonesia dalam kurun waktu Bilangan Fu menjelma. Konteks sungguhlah kekuatan dari novel ini. Konteks yang membatasi tapi sekaligus memberi arti.
Bilangan Fu, bagi saya adalah sebuah pola pikir. Sebuah perspektif, sebuah frame dalam memaknai suatu peristiwa. Ia tak hanya sebuah novel, ia melebihi itu, ia adalah diskusi tersembunyi. Karena sejatinya itulah tulisan, sebuah konduktor-penghantar makna & pikiran.
Dan kali ini, pada Bilangan Fu, hati saya tercuri lagi.
Bilangan FU adalah angka yang tak bisa dihitung, ditambah, dikurangi, dikali ataupun dibagi…biarlah FU tetap sendiri tak berbilang. Dan jangan bilang siapa-siapa tentang bilangan ini, RAHASIA!
dan bukankah rahasia mempunyai beragam wajah yg mempesona ;D