Journey to Solo (bag 2 - habis) : Surga Jajanan yang Menggiurkan
September 2, 2008 by nisaika
Berat badan saya 38 kg. Saya tak bohong, ini sungguhan.
Gara2 berat badan yang berada di kisaran kepala tiga ini, saya sering jadi bahan tertawaan karena para ponakan atau adik teman2 saya yang masih duduk di bangku SD mempunyai bobot yang lebih berat dari saya.
Seringkali, juga lantaran persoalan berat badan ini, banyak orang menyangka saya tidak suka makan. (padahal oh doyan! hehehehe). Sebenarnya justru karena postur tubuh yang kurus kering, atau kalau istilah teman saya ”tinggal tulang belulang terbungkus kulit” –padahal saya ndak merasa begitu2 amat, kurus dikit sih iya tapi tetap proporsinonal, lucu imut dan menggemaskan hehehehe – ini justru merupakan kamuflase yang pas buat saya.
Yang kalo di pesta kawinan orang, hobinya food hunting, berpindah dari satu meja ke meja lainnya, mencicip menu satu ke menu lainnya. Atau kalau lagi buffet makan sepuasnya, bisa dipastikan bila menunya menarik saya akan seringkali diam-diam berdiri untuk mengisi piring saya yang cepat kosong ;D
Atau seperti sekarang ini, di kota Solo, lagi bertamasya ria riang gembira menghabiskan long weekend libur kemerdekaan. Saya hanya berkata ke Dyah ”Yah, maw wisata kuliner” Dyah tiba2 seperti terhipnotis langsung mengangguk angguk setuju tanpa menunjukkan tanda-tanda penolakan (harusnya saat itu saya katakan saja: Yah transfer ke rekening saya 1 juta, siapa tahu Dyah juga tidak menolak) *ekstrem berlebihan* hahahaha.
Perjalanan menyusuri surga jajanan Solo yang menggiurkan ini dimulai dengan nasi liwet.
Nasi Liwet
Suatu malam saya tiba di sebuah warung lesehan nasi liwet, si ibu penjual berkebaya begitu cekatan meracik isinya dengan duduk bersimpuh diantara bakul2 berisi penganan. Malam itu nasi liwet yang saya nikmati tidak menggunakan piring melainkan dialasi daun pisang yang dibentuk pincuk, hmm sungguh tradisional rasanya, apalagi sembari menatap malam yang cerah dan bulan purnama yang bulat penuh *untung saja settingnya bukan film horor, coba kalo film horor, sudah berubah saya jadi serigala jadi2an yang berlarian kesana kemari membawa sepincuk nasi liwet, hueheheheeh*
Aniway, begitu mencicipi nasi liwet saya langsung teringat nasi gurih, mirip juga dengan dengan nasi uduk Jakarta, atau untuk kawasan melayu –seperti waktu saya di Batam dulu- biasanya dikenal dengan sebutan nasi lemak. Tapi meski sejenis dengan nasi2 tersebut, ini nasi emang ekstra gurihnya dibanding lainnya. Dalam pincuk tersebut nasi liwet disajikan dengan sayur lodeh manisa (yang ehm bersantan), lauk suwiran ayam dan kumut, saos gurih yang terbuat dari santan dan kocokan putih telur.
Gimana ngga luar biasa gurih? Lha wong isinya santan semua, hehehehe
Brambang Asem
Keesokan harinya saya pergi ke pasar klewer, hmm belanja batik? Tentu saja, tapi yang tak kalah asiknya adalah menikmati jajanan di sini, karena ternyata lorong2 pasar ini juga menyimpan beragam makanan khas solo yang barangkali sudah jarang terlihat. Salah satunya brambang asem.
Bentuk penganan ini sangat sederhana, kulupan daun jelegor (ubi jalar) yang diberi bumbu sambal (mungkin bisa dibayangkan semacam pecel tanpa nasi atau dengan semanggi surabaya saya rasa juga cukup mirip). Yang isitimewa adalah rasa sambalnya yang pedas tapi manis dengan rasa khas gula jawa. Hmmm, apalagi disajikan dengan tempe gembus (di daerah saya disebut: tempe menjes) yang dibacem. Aniway sedikit tips nih, sebaiknya sedia minuman sebelum membeli jajanan jenis ini, rasa pedasnya kalo tak tahan, amboi…tanpa minum wuiihhh bisa megap2 melotot ga jelas macam ikan mas koki di aquarium, hihihihi
Es Gempol
Terik siang hari, lelah berjalan dan berpeluh, enaknya tentu menyegarkan dahaga dengan minum es. Dyah berhenti mendadak saat melihat seorang nenek di kawasan Solo Trade Center yang duduk di bawah payung dengan 1 kuali besar berisi santan didalamnya. ”Es Gempol, Nis” Dyah menghambur menghampiri simbah, saya pun mengikuti saja dari belakang. Semangkuk es Gempol pun dengan sigap disiapkan simbah untuk saya.
Kuah santannya putih sedikit kecoklatan saat simbah memasukkan gula jawa cair kedalam mangkok es Gempol. Beberapa bulatan2 putih bentuknya bulat gepeng juga ikut dicampurkan kedalam kuahnya.
Sambil berjongkok di pinggir jalan, saya segera tergerak mencicipinya. Hmmm…segar, gurih manis, dari perpaduan santan dan gula jawa. Lalu saya pun menggigit bulatan2 putih gepeng yang menarik perhatian saya sedari tadi. Ternyata, rasanya mengingatkan saya akan rasa petulo, penganan daerah saya yang sama2 berkuah santan seperti es Gempol. Hanya saja kalau petulo, bulatan putih tadi berwarna-warni dengan bentuk yang mirip getuk dan biasanya disajikan bersama serabi.
Tengkleng
Tidak afdol rasanya kalau pergi ke Solo dan melewatkan makanan yang satu ini, apalagi di pasar Klewer ada warung tengkleng yang cukup terkenal. Tampilan warungnya sungguh sederhana, seperti warung kaki lima pinggir jalan pada umumnya. Tapi begitu waktu menunjukkan pukul 2 siang, wuiihhh calon pembeli langsung menyerbu dan rela antri berdesakan, demi mendapatkan sepincuk Tengkleng. Penuh perjuangan memang, karena ketika sore menjelang biasanya sudah tidak ada lagi porsi yang tersisa.
Untung saja, salah satu adik Dyah berbaik hati menempuh segala kesengsaraan itu untuk kami,hehehe. Bayangkan kalo tidak, barangkali tubuh kerempeng saya –yang imut lucu menggemaskan- ini semakin gepeng tergencet massa *lagi2 ekstrem berlebihan*
Hmmm…jadi penasaran. Dan beginilah dalam indra pengecapan saya *haiyah* tengkleng adalah semacam masakan gulai kambing, tanpa santan yang rasanya sedikit lebih pahit dan lebih pedas. Selain soal ada tidaknya santan, perbedaan lainnya dengan gulai, adalah daging yang digunakan. Gulai biasanya menggunankan daging boneless, namun untuk tengkleng daging yang digunakan malah yang cenderung bertulang. Jadi sensasi makannya justru saat menggigit daging dari tulangnya. Nah karena saya emang hobi kerikit-kerikit tulang, makanan yang begini ini emang cucok menyalurkan kesenangan saya, hehehehe. Dyah sendiri, sudah begitu berpromosi mengenai nikmatnya rasa makanan ini, yang disebut-sebut sebagai satu2nya masakan berbahan kambing yang ia bisa santap. Padahal kalau saya hajar saja semua, mau sate kambing, gule kambing, martabak daging kambing, tongseng, kambing guling, oke ajah, heheheh *rakus ya Nis? hihihihihi*
Sayang sungguh sayang memang, hanya 4 jenis makanan ini yang sempat saya cicipi saat saya berada di Solo. Terlalu singkat waktu saya berkunjung dan saat itu tampaknya sang waktu juga sedang suka berputar dengan cepat *haiyah*. Sebenarnya perjalanan ini masih menyisakan banyak sisi kota yang belum terjamah, beragam makanan tradisional yang belum sempat saya jelajahi rasanya. Tapi setidaknya saya pernah sini, dan suatu saat saya ingin kembali lagi…
Kembali berpetualang di surga jajanan yang menggiurkan ;D
*** selagi nuansa ramadhan, mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin, semoga ramadhan membawa kedamaian hati bagi kita semua dan kesadaran untuk membuka hati akan cinta-Nya….
english please… ^^
hahaha.. beratku sekarang dua kali lipatmu..
being fat is not a crime
tOp
hihihi trus kok sekarang makan sayur mulu Pan.. diet yach.. gyahahahahah :p