Jawa Pos = Indo Pos = Kantor Pos?! = Bakmi Japos?!
December 9, 2007 by nisaika
Di Surabaya –katakanlah di Jawa Timur- siapa tak kenal Jawa
Pos? Koran besutan Dahlan Iskan ini begitu merajai pangsa pasar media cetak di
Jawa Timur. Siapa yang tak tahu gedung Graha Pena yang berdiri megah di Jalan
Ahmad Yani, adalah kantor tempat Jawa Pos & Grup anak2 perusahaannya
bersemayam. Media mana yang begitu intens hubungannya dengan segenap jajaran
pemerintahan, kepolisian dan berhasil menembus komunitas tionghoa di Jawa
Timur? Tentu saja jawabannya adalah Jawa Pos. Disini, Jawa Pos bukan hanya
koran, tapi lebih dari itu ia adalah sebuah gaya hidup (lifestyle) yang memuat dan
menciptakan what’s in & what’s hot.
Dengan tag line “selalu ada yang baru” koran ini buat saya
cukup punya kekuatan dalam hal inovasi. Seperti munculnya rubrik deteksi yang
menyasar anak muda untuk menciptakan keterikatan merk sejak dini, dan mempersiapkan
mereka sebagai pangsa pasar media Jawa Pos nantinya. Bahkan beberapa saat yang lalu, saat Dahlan
Iskan melakukan operasi cangkok liver di China, tiba-tiba saja muncul rubrik
harian baru yang memuat tulisan orang no 1 di Jawa Pos ini mengenai
pengalamannya menjalani proses penggantian hati tersebut.
Menurut sudut pandang
saya ini sih…ego pribadi, macam Surya Paloh yang juga suka tiba-tiba muncul di
Metro TV untuk memaparkan pendapatnya mengenai ini dan itu. But hey, what can
I say…they owned the media. Mereka adalah pemilik media dan tentunya cukup
pintar untuk mengetahui kekuatan media massa
dalam pembentukan opini publik.
Namun sekali lagi, meski saya tidak setuju dengan model
penggunaan media oleh para pemiliknya seperti itu, tetapi saya akui rubrik
tersebut adalah cara yang brilian dalam memahami tren konsumen media yang makin
menyukai berita berbentuk feature dan bersifat entertainment. Jawa Pos paham bagaimana
cara memenuhi keinginan konsumen sekaligus memanfaatkannya sebagai branding sosok Dahlan Iskan melalui
media cetak yang dimiliknya.
Tapi sekuat apapun Jawa Pos di Jawa Timur di sekitarnya, dan
memproklamirkan diri sebagai Koran Nasional dari daerah, Jawa Pos memang belum
cukup mampu melakukan penetrasi pasar ke Jakarta. Soal kesulitan menembus area2
lain dimana koran setempat telah merajai pasar juga dialami media lainnya, sebagai
contoh harian nasional Kompas yang begitu “powerfull” menggenggam Jakarta, namun ternyata kesulitan
menembus pasar Jawa Timur dan sekitarnya. Tidak cuma Kompas, lihat saja koran Surya -grup kompas- yang
harus kembang kempis bertarung dg Jawa Pos di Surabaya. Pantas saja dulu seorang
kawan pernah berkata pada saya “Semua Koran yang mengaku Koran Nasional itu
sebenarnya Koran Lokal” kekuatannya hanya di area lokal diamana koran tersebut
berada, well in this case…I agree.
Nah…Suatu ketika saya berencana bertemu kawan yang bekerja
di Jawa Pos, sekedar informasi Koran Jawa Pos di Jakarta berganti nama menjadi
Indo Pos. Jawa Pos sendiri tetap punya biro Jakarta yang terpisah dari Indopos untuk
mensuplai berita-berita nasional.
Begitulah, saya akhirnya berangkat menuju Graha Pena di
bilangan Kebayoran Lama tempat Indo Pos
& Jawa Pos biro Jakarta berada. Ini Graha Pena ke tiga yang pernah saya temui, pertama tentu saja di Surabaya, kemudian di
Batam, dan kini saya berada di dalam taxi menemui satu lagi gedung bernama
Graha Pena.
“Pak…ke Kantor Indo Pos ya pak di Jl. Kebayoran Lama” Saya berkata
kepada pengumudi taxi, si Bapak Pun langsung mengemudi ke arah kebayoran lama. Begitu mendekati kebayoran lama, si Bapak pengemudi taxi bertanya…
“eee…mbak kantornya nanti di pinggir jalan gitu kan?”
“iya pak…”
“iya ya…kantor pos biasanya juga di pinggir jalan”
“eh anu pak…bukan kantor pos, tapi indo pos”
“iya…kayak kantor pos gitu kan mbak?”
Dang! “bukan pak…itu kantor koran”
“Koran?”
“Iya…koran indo pos”
“oohhh” kata si bapak dengan wajah bingung dan mengernyit
dahinya
…sejurus kemudian, si bapak taxi minta ijin menepi, untuk
bertanya warga dimana gerangan kantor tersebut berada…
Tapi ternyata bukan hanya saya sendiri yang mengalami hal seperti itu, karena begitu bertemu dengan kawan saya yang bekerja di Jawa Pos diapun menceritakan kisah antara adiknya, tukang ojek dan kantor Indopos/Jawa Pos.
“Mas ke kantor Jawa Pos ya” kata adiknya ke mas tukang ojek
“Apa Mas? Bakmi Japos?”
Dang!
Dan kawan saya itu berkatalah “Oalah Nis kerjaanku…kalah sama Bakmi Japos”