Feed on
Posts
comments

Buat kawan saya, mas Oji, tempat parkir adalah salah satu rahasia Tuhan

Ini terlontar saat dia hampir ½ jam berputar-putar di parkiran Tunjungan Plaza - TP sekedar mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobilnya. Saat itu, dia yang sepertinya sudah kepalang jengkel berkata pada Uyung, kawan saya yang lain:

“kamu tahu Yung, ada 4 hal yang menjadi rahasia Tuhan”

“yang pertama adalah kelahiran”

“yang kedua kematian”

“yang ketiga jodoh”

“dan yang keempat adalah parkiran kosong di TP waktu malam minggu”

Hahahaha. Dan begitulah kisah 4 rahasia Tuhan itu akhirnya bergulir menjadi cerita diantara kami, yang bisa sewaktu waktu diperbincangkan sambil mengingat masa lalu.

Aniway soal tempat parkir, saya yakin sebagai pengendara kendaraan bermotor anda pasti tidak asing lagi dengan tempat yang satu ini. Saya misalnya, bahkan memiliki memori tersendiri untuk lokasi parkiran berkenaan dengan beberapa kejadian yang pernah saya alami disana.

  • Yang tertinggal adalah: saya

Saya pernah tertinggal di parkiran.

Tepatnya di pelataran parkiran Supermarket Bonet. Mila kawan saya yang mengemudi motor, saya membonceng manis *iya, saya memang manis, xixixixixi* *sambit sendal biar nyadar* dibelakang. Tapi belum juga saya naik, kaki saya baru membuka footstep (pijakan kaki untuk penumpang dibelakang). Mila sudah melaju dengan motornya.

Saya Terperangah…

“Mil…woiii!! Mill!!”

Mila tak juga menoleh. Terus melaju kencang dan hilang di tikungan.

Saya terdiam. Mengerjapkan mata tak percaya. Dan di pelataran parkir itu saya menunggu.

Menunggu

Menunggu

Hingga Mila datang kembali dan tersenyum lebar, bersamaan juga saya yang tertawa melihat wajahnya.

“Pantesan aku ajakin ngomong kok diem aja… eh begitu nengok kebelakang kok ngga ada orangnya… kamu sih ringan banget…udah naek apa belum ngga kerasa…”

Gyahahahahahah. Gelak tawa saya menyembur diantara rentetan ucapan kawan saya, si Mila

Moral cerita: saya memang manis *hehehehe* lho?! hahahahaha

  • Perangkat penting itu bernama: helm

Helm adalah perangkat penting saat mengendarai motor.

Sialnya saya pernah bermasalah dengan helm saat meninggalkan motor saya di parkiran Delta Plaza. Saat itu saya kembali dari Delta dengan sekantung belanjaan, menuju parkiran motor. Dan berdiri di depan Mio putih saya tercinta dengan perasaan resah.

Perasaan saya tidak enak. Seperti ada yang salah.

Saya menatap ke arah spion tempat saya meletakkan helm.

Spion masih ditempatnya. Dua-duanya oke. Baiklah sekarang helm…

Nah…Helm…

Anjr*t. Hantu blau. Belalang tempur!

H e l m n y a . . . K o k . . . n d a k a d a ?

Lho, helmnya kemanaaaaaaaa?!

Wah….kampret nih… Helm saya ilang…Ilang!

Tarik nafas tenang. Saya melirik helm yang digantung dibawah jok

Helm biru semoga kau masih disana…

Tinggal engkau satu-satunya harapan yang tersisa

Fiuh …syukurlah…masih ada! Untung saja saat itu, saya sedang membawa 2 helm, jadi tidak terlalu kebingungan untuk menempuh perjalanan pulang. Coba kalo cuman satu, dimana saya –yg imut lucu & menggemaskan ini- *haiyah* musti beli helm malam-malam begitu?

Moral cerita: wahai kau pencuri helm gw di parkiran Delta, semoga hidup elu dianugerahi kecukupan helm 7 turunan… kalo perlu sampe 8 tikungan, 9 tanjakan, 10 kelokan sekalian, heuheuheuheu

  • Motorpun bisa : Berguling

Motor memang bisa berguling.

Anda tidak percaya? Saya pernah mengalaminya.

Suatu ketika di siang hari yang terik dan panas saya pergi bersama Dyah ke Tunjungan Plaza. Tujuannya tentu saja meng-adem-kan diri dari suhu surabaya yang akhir-akhir ini menggila. Dan TP menjadi pilihan yang menarik karena bisa berjalan-jalan dalam gedung yang berpendingan, sepuasnya hihihihihhi

Sampai di area parkir motor TP, di tengah parkiran yang panas kering kerontang itu, diantara hamparan sepeda motor itu, insiden ini terjadi. Footstep motor yang kami naiki, di tikungan secara tidak sengaja tidak dinyana, menyenggol sebuah motor yang terparkir manis

Padahal…

Hanya sebuah senggolan yang pelan

Sebuah sentuhan yang tidak kencang, hanya pelan, itu saja…

Dan…adegan berikutnya berjalan seperti

s l o w m o t i o n

motor yang awalnya condong kekiri karena menggunakan standart samping dan dikunci setir perlahan mulai oleng ke kanan

Wah.. nah lho…nah…duh…

BRUKK

Alamak! Motor yang terparkir manis itupun jatuh kesamping sampai menyentuh paving. Betul terguling! Terkejut Saya dan Dyah pun berpandangan, antara nyengir & kaget, antara tertawa & terperanjat.

Saya meloncat turun, dari boncengan Dyah. Menarik motor yang terguling dan mencoba membuatnya kembali berdiri dengan sempurna sambil diiringi derai tawa. Untung saja…fiuh benar untung saja tidak ada motor lain yang jaraknya berdekatan.

Coba bayangkan kalo ada, wah…jujur saya ngeri membayangkan efek dominonya. Motor yang terguling (sebut saja motor a) menimpa motor lainnya (sebut saja motor b), lalu motor b terguling menimpa motor disebelahnya juga (sebut saja motor c) dan demikian juga motor c yang menimpa motor d, motor d ke motor e, e ke f, g, h, i … dan seterusnya

Wuidihh….

Moral cerita: kalau anda ingin menggulingkan sepeda motor, sepertinya tempat parkir adalah pilihan menarik hahahahahahah

————-

Aniway lebih dari itu, jauh di lubuk hati saya, saya percaya tempat parkir –in one way or another- memang salah satu rahasia Tuhan, yang menyimpan pendar kehidupan tersendiri. Dari tempat sekelumit yang nampaknya remeh temeh ini, anda bisa bertegur sapa dengan rekan kantor anda, berinteraksi dengan kawan2 security, berbagi senyum dengan petugas pengelola parkir, bertukar canda singkat dengan sesama teman satu gedung perkantoran. Hal-hal sederhana yang bisa menyentuh hati manusia saya.

Bagaimana dengan anda?

Bilangan Fu

Apakah fu apakah hu? Tapi bukankan fu memiliki kemiripan dengan hu seperti orang jepang menyebut kohi untuk coffe

Sudah lama saya tak membaca tulisan Ayu Utami. Dan, saya seperti rindu. Saman (1998) & Larung (2001) telah mencuri hati saya. Kini dihadapan saya, dia-Ayu Utami, menjelma kembali. Dalam Bilangan Fu, dalamYuda, Marja & Parang Jati.

Pada mereka, pada buku ini saya merapat. Saya gelisah mencari bagian hati yang telah tercuri. Mencari, selalu, yang membuat saya jatuh hati. Kalimat tegas yang berhenti tajam atau yang tiba2 meliuk -membelok menukik- ke dalam.

Satria pemanjat, kekasih dan sabahat. Dan demikianlah cerita berpusat diantara mereka bertiga. Mengalir pada sebuah kerangka cerita yang mengusung tema post modern, dengan tiga isu utama Modernisme, Militerisme dan Monoteisme.

Dalam loncatan-loncatan cerita yang secara mengejutan mengait satu sama lain. Konservasi bukit kapur, peristiwa pembunuhan dukun santet, konflik TNI-Polri, sejarah angka dan babad tanah jawi.

Cerita yang mewujud seolah nyata dengan bingkai peristiwa-peristiwa riil di Indonesia dalam kurun waktu Bilangan Fu menjelma. Konteks sungguhlah kekuatan dari novel ini. Konteks yang membatasi tapi sekaligus memberi arti.

Bilangan Fu, bagi saya adalah sebuah pola pikir. Sebuah perspektif, sebuah frame dalam memaknai suatu peristiwa. Ia tak hanya sebuah novel, ia melebihi itu, ia adalah diskusi tersembunyi. Karena sejatinya itulah tulisan, sebuah konduktor-penghantar makna & pikiran.

Dan kali ini, pada Bilangan Fu, hati saya tercuri lagi.

Berat badan saya 38 kg. Saya tak bohong, ini sungguhan.

Gara2 berat badan yang berada di kisaran kepala tiga ini, saya sering jadi bahan tertawaan karena para ponakan atau adik teman2 saya yang masih duduk di bangku SD mempunyai bobot yang lebih berat dari saya.

Seringkali, juga lantaran persoalan berat badan ini, banyak orang menyangka saya tidak suka makan. (padahal oh doyan! hehehehe). Sebenarnya justru karena postur tubuh yang kurus kering, atau kalau istilah teman saya ”tinggal tulang belulang terbungkus kulit” –padahal saya ndak merasa begitu2 amat, kurus dikit sih iya tapi tetap proporsinonal, lucu imut dan menggemaskan hehehehe – ini justru merupakan kamuflase yang pas buat saya.

Yang kalo di pesta kawinan orang, hobinya food hunting, berpindah dari satu meja ke meja lainnya, mencicip menu satu ke menu lainnya. Atau kalau lagi buffet makan sepuasnya, bisa dipastikan bila menunya menarik saya akan seringkali diam-diam berdiri untuk mengisi piring saya yang cepat kosong ;D

Atau seperti sekarang ini, di kota Solo, lagi bertamasya ria riang gembira menghabiskan long weekend libur kemerdekaan. Saya hanya berkata ke Dyah ”Yah, maw wisata kuliner” Dyah tiba2 seperti terhipnotis langsung mengangguk angguk setuju tanpa menunjukkan tanda-tanda penolakan (harusnya saat itu saya katakan saja: Yah transfer ke rekening saya 1 juta, siapa tahu Dyah juga tidak menolak) *ekstrem berlebihan* hahahaha.

Perjalanan menyusuri surga jajanan Solo yang menggiurkan ini dimulai dengan nasi liwet.

Nasi Liwet

Suatu malam saya tiba di sebuah warung lesehan nasi liwet, si ibu penjual berkebaya begitu cekatan meracik isinya dengan duduk bersimpuh diantara bakul2 berisi penganan. Malam itu nasi liwet yang saya nikmati tidak menggunakan piring melainkan dialasi daun pisang yang dibentuk pincuk, hmm sungguh tradisional rasanya, apalagi sembari menatap malam yang cerah dan bulan purnama yang bulat penuh *untung saja settingnya bukan film horor, coba kalo film horor, sudah berubah saya jadi serigala jadi2an yang berlarian kesana kemari membawa sepincuk nasi liwet, hueheheheeh*

Aniway, begitu mencicipi nasi liwet saya langsung teringat nasi gurih, mirip juga dengan dengan nasi uduk Jakarta, atau untuk kawasan melayu –seperti waktu saya di Batam dulu- biasanya dikenal dengan sebutan nasi lemak. Tapi meski sejenis dengan nasi2 tersebut, ini nasi emang ekstra gurihnya dibanding lainnya. Dalam pincuk tersebut nasi liwet disajikan dengan sayur lodeh manisa (yang ehm bersantan), lauk suwiran ayam dan kumut, saos gurih yang terbuat dari santan dan kocokan putih telur.

Gimana ngga luar biasa gurih? Lha wong isinya santan semua, hehehehe

Brambang Asem

Keesokan harinya saya pergi ke pasar klewer, hmm belanja batik? Tentu saja, tapi yang tak kalah asiknya adalah menikmati jajanan di sini, karena ternyata lorong2 pasar ini juga menyimpan beragam makanan khas solo yang barangkali sudah jarang terlihat. Salah satunya brambang asem.

Bentuk penganan ini sangat sederhana, kulupan daun jelegor (ubi jalar) yang diberi bumbu sambal (mungkin bisa dibayangkan semacam pecel tanpa nasi atau dengan semanggi surabaya saya rasa juga cukup mirip). Yang isitimewa adalah rasa sambalnya yang pedas tapi manis dengan rasa khas gula jawa. Hmmm, apalagi disajikan dengan tempe gembus (di daerah saya disebut: tempe menjes) yang dibacem. Aniway sedikit tips nih, sebaiknya sedia minuman sebelum membeli jajanan jenis ini, rasa pedasnya kalo tak tahan, amboi…tanpa minum wuiihhh bisa megap2 melotot ga jelas macam ikan mas koki di aquarium, hihihihi

Es Gempol

Terik siang hari, lelah berjalan dan berpeluh, enaknya tentu menyegarkan dahaga dengan minum es. Dyah berhenti mendadak saat melihat seorang nenek di kawasan Solo Trade Center yang duduk di bawah payung dengan 1 kuali besar berisi santan didalamnya. ”Es Gempol, Nis” Dyah menghambur menghampiri simbah, saya pun mengikuti saja dari belakang. Semangkuk es Gempol pun dengan sigap disiapkan simbah untuk saya.

Kuah santannya putih sedikit kecoklatan saat simbah memasukkan gula jawa cair kedalam mangkok es Gempol. Beberapa bulatan2 putih bentuknya bulat gepeng juga ikut dicampurkan kedalam kuahnya.

Sambil berjongkok di pinggir jalan, saya segera tergerak mencicipinya. Hmmm…segar, gurih manis, dari perpaduan santan dan gula jawa. Lalu saya pun menggigit bulatan2 putih gepeng yang menarik perhatian saya sedari tadi. Ternyata, rasanya mengingatkan saya akan rasa petulo, penganan daerah saya yang sama2 berkuah santan seperti es Gempol. Hanya saja kalau petulo, bulatan putih tadi berwarna-warni dengan bentuk yang mirip getuk dan biasanya disajikan bersama serabi.

Tengkleng

Tidak afdol rasanya kalau pergi ke Solo dan melewatkan makanan yang satu ini, apalagi di pasar Klewer ada warung tengkleng yang cukup terkenal. Tampilan warungnya sungguh sederhana, seperti warung kaki lima pinggir jalan pada umumnya. Tapi begitu waktu menunjukkan pukul 2 siang, wuiihhh calon pembeli langsung menyerbu dan rela antri berdesakan, demi mendapatkan sepincuk Tengkleng. Penuh perjuangan memang, karena ketika sore menjelang biasanya sudah tidak ada lagi porsi yang tersisa.

Untung saja, salah satu adik Dyah berbaik hati menempuh segala kesengsaraan itu untuk kami,hehehe. Bayangkan kalo tidak, barangkali tubuh kerempeng saya –yang imut lucu menggemaskan- ini semakin gepeng tergencet massa *lagi2 ekstrem berlebihan*

Hmmm…jadi penasaran. Dan beginilah dalam indra pengecapan saya *haiyah* tengkleng adalah semacam masakan gulai kambing, tanpa santan yang rasanya sedikit lebih pahit dan lebih pedas. Selain soal ada tidaknya santan, perbedaan lainnya dengan gulai, adalah daging yang digunakan. Gulai biasanya menggunankan daging boneless, namun untuk tengkleng daging yang digunakan malah yang cenderung bertulang. Jadi sensasi makannya justru saat menggigit daging dari tulangnya. Nah karena saya emang hobi kerikit-kerikit tulang, makanan yang begini ini emang cucok menyalurkan kesenangan saya, hehehehe. Dyah sendiri, sudah begitu berpromosi mengenai nikmatnya rasa makanan ini, yang disebut-sebut sebagai satu2nya masakan berbahan kambing yang ia bisa santap. Padahal kalau saya hajar saja semua, mau sate kambing, gule kambing, martabak daging kambing, tongseng, kambing guling, oke ajah, heheheh *rakus ya Nis? hihihihihi*

Sayang sungguh sayang memang, hanya 4 jenis makanan ini yang sempat saya cicipi saat saya berada di Solo. Terlalu singkat waktu saya berkunjung dan saat itu tampaknya sang waktu juga sedang suka berputar dengan cepat *haiyah*. Sebenarnya perjalanan ini masih menyisakan banyak sisi kota yang belum terjamah, beragam makanan tradisional yang belum sempat saya jelajahi rasanya. Tapi setidaknya saya pernah sini, dan suatu saat saya ingin kembali lagi…

Kembali berpetualang di surga jajanan yang menggiurkan ;D

*** selagi nuansa ramadhan, mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin, semoga ramadhan membawa kedamaian hati bagi kita semua dan kesadaran untuk membuka hati akan cinta-Nya….

Gw suka liat tanggal merah, hehehe.

Ya udah gw merahin aja tuh tanggalan semua pake spidol, hehehhehe, ya ngga lah.

Gw suka liat tanggal merah, karena berarti liburan! Nah sama kasusnya waktu liat tanggal 18 agustus adalah tanggal merah. Merah bouw! Merah, auuu! *kalap* hihihihi Gw yang lagi desperate banget buat berlibur segera menyusun rencana2 tamasya keliling dunia *obsesi yang belum kesampaian*. Baiklah every journey started with one little step. Dan kali ini langkah pertama gw adalah Jawa Tengah. Gw akan pergi ke Solo, sekaligus Jogja, cihuy!

Masalahnya gw kehabisan tiket kereta.Gedubrak!

Berhubung long weekend, kayaknya manusia2 seluruh indonesia pada berbondong2 pesen tiket kereta buat liburan. Kampr*t! Baiklah Nisa, perjuangan terus berlanjut, gw dan Dyah (partner gw berangkat ke Solo, sekaligus guide gw, secara dia tinggal di Solo gitu) terus berunding bagaimana caranya tiket harus bisa diraih, mujur harus datang tanpa diundang.

Caranya adalah: Rayu.

Betul, disaat-saat kepepet seperti ini harus pandai merayu. Gw dan Dyah merayu seorang teman di Jogja, dan entahlah teman gw di Jogja itu merayu siapa (lebih baik tutup mata, dan tidak tahu, huahahahahahaah). Dari hasil rayu-merayu itu, teman di Jogja berhasil mendapatkan tiket untuk kami kereta pulang ke Surabaya (gw sebenarnya rada curiga kalo temen gw itu calo tiket, peace bro…hihihihihi, thanks ya tiketnya), walaupun itu berarti gw dan Dyah harus stand by di stasiun Solo dini hari karena KA Mutiara Selatan berangkat jam 2 pagi dari Solo.

Nah tiket pulang sudah di tangan

persoalannya sekarang berarti tinggal bagaimana berangkatnya? Haiyah. Glodak!

Bagoeeeessss Nis, bisa pulang ngga bisa berangkat, gyahahaha.

Tapi gw nyampe juga tuh di Solo, dini hari jam 1 pagi, dengan mata merem melek, turun dari bis patas sambil menggandeng Matt Damon *sambit sepatu ukuran 36/37* *nisa terima sambitan sepatu, sambil bilang makasih…makasih…nyambitnya sepasang ya bouw, hehehehe*

Matt Damon? ngimpiiii kali, yang ada juga Dyah yang begitu bangun langsung syok

“Loh kok sudah disini??? Waduh!”

Gw bengong “hah?!”

“Kelewat, mestinya kita turun disana tadi”

Dueeennggg!

Begitulah, dini hari jam 1 pagi mendaratkan kaki untuk pertama kali di Solo, dan salah pula turun di jalan *geleng2 pala* Hahahaha. Benar2 tamasya yg luar biasa ;D

Membunuh Waktu

Malam itu saya terjebak di kantor.

Bukan lantaran pekerjaan, tapi lebih pada kebiasaan masyarakat kita yang suka menutup jalan dengan mengusung alasan sedang berlangsung kegiatan warga. Seringkali karena acara kawinan, kali lain karena selamatan atau seperti yang sekarang sedang menimpa saya, adalah kegiatan bazaar 17-an.

Warga sekitar kos saya nampaknya sedang antusias bersiap memperingati hari kemedekaan. Minggu lalu digelar beragam lomba anak-anak, selanjutnya mulai senin kemarin jalan di depan kos ditutup dan disulap menjadi arena bak pasar malam. Lengkap dengan wahana permaian memancing berisi ikan karet, stand peralatan rumah tangga, dari daster hingga panci dan aksesoris rambut 5000 dapet tiga biji, penjual jajanan tempura, kue cucur, dan lain sebagainya.

Walhasil, saya memilih untuk tinggal diam di kantor, hingga larut malam. Demi motor mio putih kesayangan saya, yang bila saya pulang sekarang, tidak akan berhasil melewati jalan masuk ke kos. Tentunya ini bukan tanpa resiko, karena ini berarti saya harus mencari kegiatan untuk mengisi waktu luang dan membunuh waktu sampai nanti jam 10 malam

Hmmm….saya melangkah ke Gramedia yang kebetulan satu lantai dengan kantor saya, bosan disitu saya kembali lagi ke arah cubicle, belum saya sempat duduk, rekan cubicle saya mengajak makan malam soto ayam. Baiklah, makan soto pun jadi, menikmati semangkuk soto ayam, bertabur koya, ditemani kerupuk udang dan teh hangat pun menjadi kegiatan saya beberapa waktu berikutnya

Lepas itu saya beranjak kembali ke kantor, ditengah jalan tawaran menarik menghampiri, nonton pertunjukan komedi musikal miss kadaluarsa, saya pun mengiyakan, lha wong gratis. Masa ditolak? Oleh kenalan saya itu pun saya disusupkan disalah satu kursi VIP, hiihihihihi, makasi ya pak…

Sebenarnya jarang2 saya menonton secara langsung pementasan seperti ini. Seingat saya, terakhir kali waktu itu menonton pertunjukan balet Swan Lake di gedung cak Durasim. Itu pun sudah beberapa tahun yang lalu. Aniway balik lagi ke miss kadaluarsa (untuk informasi lebih lengkap bisa diakses disini) pementasan ini adalah perpaduan antara tari, drama dan komedi I must say it’s quite entertaining. Terutama penampilan Tika Panggabean & (apa lagi) Sarah Sechan yang buat saya terlihat sangat relax dan natural membawakan peran masing-masing sepanjang pertunjukan.

Begitu waktu menunjukkan pukul 21.30 saya pun beranjak pergi ditengah break pertunjukan miss Kadaluarsa. Pementasan belum berakhir memang, tapi saya terdorong melangkah ke kantor untuk bersiap pulang. Apa lacur sepertinya takdir berkata lain, tak membawa saya pulang namun malah mempertemukan saya dengan teman cubicle saya, dan senior dari sister company yang menyeret saya dalam pembicaraan mendalam soal terjebak dalam comfort zone alias zona nyaman.

Percakapan malam hari yang cukup aneh tetapi memang menjadi bahasan yang menarik. Tak terasa hampir mendekati tengah malam, sayapun pamit undur diri. Agar tak menjadi semacam cinderella yang tergesa dan meninggalkan sebelah sepatunya, saat jam menunjukkan pukul 12.00 malam. Kiliing time ini berakhir sudah, bahkan tak diduga tak dinyana melewati batas waktunya….

Di jalanan kota yang sepi malam itu saya memacu mio saya dengan kecepatan tinggi. Saat saya tiba di kos, bazar di depan kos benar2 telah usai, jalanan lengang, dan saya bersama mio putih saya melenggang aman dan damai.

Malam itu kiranya saya bisa berkata…

saya puas membunuh waktu ;)

Sebagai anak kos sepertinya gw berjodoh dengan jemuran.

Kos gw pas jaman kuliah, di sebuah kamar lt 2 menghadap ke jalan dengan jemuran di samping jendela. Waktu kontrak rumah di Batam, gw memilih kamar yang agak dibelakang dan ternyata jendelanya juga menghadap ke jemuran. Lanjut lagi, kamar kos gw yang sekarang, berada di lt 3 sebuah rumah pink. Di lantai ini cuma ada dua kamar, bersebelahan, menghadap ke barat, and guess again lt 3 ini memang lantai jemuran! Hahaha lt jemuran yg dengan bangga gw bilang  has a great night city view! (jika tidak terhalang jemuran tentu saja =P)

Ngomongin soal kos2an, gw emang udah 9 tahun jadi anak kos, malang melintang kian kemari sebagai anak hilang, huhuhuhu *ekstrim berlebihan* Dari 9 tahun itu gw menyimpulkan bahwa menurut gw momen yang paling mengiris hati, mengurai air mata saat jadi anak kos selain elu tiba2 jatuh sakit, adalah saat mendadak elu kelaparan di kos.

Betul & tidak bohong, kelaparan di kos itu sungguh miris kawan, terutama bagi anak kos macam gw yang lucu, imut, menggemaskan ga bisa masak, dan sekarang terdampar kos lt 3 disebuah kamar yang tidak menghadap ke jalan raya, yang mana sehingga menyebabkan bilamana gw seketika lapar, ngga bisa asal maen tereak manggil abang jajanan yang lewat, hiks…

Makanya belajar dari pengalaman, gw bikin rencana penyelamatan diri yang gw sebut P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan). Caranya dengan menyediakan stok cemilan di kos2an untuk setiap saat bisa digunakan. Nah berikutnya gw iseng nge-list beberapa cemilan yang biasa gw beli untuk menemani hari2 sepi & kelaperan gw di kos (haiyah). So here we goes…

1. Eggs Drop - Monde

Kalo dari bentuknya, jajanan ini memang ga bisa dibilang menarik. Bentuknya kaya bola dibelah, ga ada hiasan motif2 sama sekali, warnanya juga kuning standar warna biskuit gitu. Tapi begitu dimakan, beeehhhh…ga bisa berhenti kalo belum abis. Nagih!

Dan ini juga telah gw buktikan, ke beberapa temen gw, sebagai kelinci percobaan. Awalnya mereka ogah-ogahan gara2 liat bentuknya ngga menarik eh…begitu dimakan, ngunyah terus ngga berhenti, hihihihi. Berikut testimoni korban:

"iya nih nis …ngga bisa berhenti…pengen ngunyah terus" -nurul
"enaaakkk…enaaaakkkk" -iik, adik nurul
"ngga ah ngga mau….mmm sini deh…iya ya enak…" –anin, pacar iik

2. Momogi (Kenangan Chiki Masa Lalu)

Hehehe jajanan anak2 ya? Tapi gw suka tuh  =P rasanya itu…membawa gw kemasa lalu, mengingatkan masa SD, yang kala itu gw tergila-gila sama yang namanya chiki ball chocolate. Lah kenapa sekarang gw ngga nyemil Chiki lagi dan beralih ke Momogi, itu dikarenakan chiki rasa coklat yang sekarang udah ngga seenak dulu lagi, hiks (seriusss, krn gw masih suka beli chiki diam2, hehehehe).

Sangking tergila2nya gw ma Chiki coklat, gw dulu suka ikut lomba2nya chiki, yang ngumpulin stiker lah, bikin puzzle lah, inilah, itulah, dan hasilnya gw dapet perlatan tulis bergambar chiki, trus yang terakhir gw dapet walkman chiki pas lulus SD heheeheheh. Ehm sedikit pengakuan dosa, gw juga pernah ngerjain boneka chiki di Bonbin ;D

3. Wafer: antara dua pilihan Tango & Briko

Kalo Tanggo gw akan pilih tiramisu ato chocolate, nah kalo Briko gw pilih yang rasa chocolate ato hazelnut

4. Oreo vs Trakinas

Sebenarnya antara Oreo dan Trakinas gw lebih suka Trakinas, biscuit coklat -dengan gambar muka tersenyum- berlapis krim di tengah. Dibandingkan dengan Oreo, si Trakinas ini rasa antara biskuit dan krimnya lebih menyatu, terutama yang rasa stroberi. Oreo, mmm…enak sih cuman gw menurut gw rasanya masih terlampau manis buat gw yang super duper manis ini
Oiya pas jaman gw kuliah dulu gw punya ritual buat makan Trakinas. Kalo oreo punya program kampanye iklan untuk sosialisasi brand ritual-nya "diputar-dijilat dicelupin" (twist, lick and dunk)
nah berikut adalah ritual gw:

  • ambil 1 potong trakinas
  • putar perlahan sambil ditekan (lakukan dgn hati2 agar biskuit tak pecah, dan krim merata)
  • lakukan sampe krimnya keluar dari senyum & mata si muka biskuit coklatnya

Nah berhubung sekarang si Trakinas ini jarang keliatan, akhirnya gw beralih ke Oreo. Meski akhirnya kenikmatan ritual gw jadi berkurang karena biskuit Oreo ngga punya muka boneka yang senyum gitu di biskuitnya, jadinya si krimnya ngga bisa keluar dari sela2 senyum dan matanya, hiks…Trakinas aku merindukanmu….. (sebenarnya gw sadis juga ya makan biskuit ini, hahahahaha)

itu Pertolongan Pertama, kalo kelaperannya udah mencapai tahap akut gw bakal keluar kos, kelayapan dan gentayangan untuk mencari makan. dan yang paling gw suka kos di daerah kampus kaya tempat gw ini, gw bisa dapet tempat nongkrong yang murah meriah sambil sesekali ngliatin mahasiswa2 yang mukanya lumayan imut, hihihihihi *disambit sendal biar nyadar*

tapi pencarian gw untuk kos baru tetap berlanjut nih… (terkait posting yang sebelumnya "Apes!") dan sebenarnya gw jadi bertanya2 apakah nanti di tempat kos gw yang baru gw bakal (lagi-lagi) dapet jemuran, nimbun cemilan, sambil terus ngarepin si gebetan (lho?!) ;D

Secangkir Kopi

Malam itu aku sadar kamu adalah secangkir kopi Espresso.
Pekat. Pahit. Memikat.

Sama seperti kopi yang sedang kunikmati saat itu, yang segala rasanya mengingatkanku padamu. Karena kamu adalah luka, kamu adalah kesedihan, tapi kamu juga adalah kedamaian jiwa sekaligus cinta yang memabukkan… Aku merasakan pahit, tapi tak bisa berhenti… Kamu adalah candu dan aku terlanjur terpikat.

Kamu pahit.

Kamu addictive.

Pahit.

Addictive.

Titik

Waktu kecil saya suka membaca Koran

Bukan beritanya, tapi komik strip yang tayang tiap hari. Kebiasaan yang terbawa sampai saat ini. Saya jarang membaca berita di koran, bila tidak benar2 menarik minat. Yang saya lakukan hanya membaca judul berita, dan sub judul lalu foto, lihat gambar2 iklan, sambil2 membolak-balik halaman koran sampai habis

Namun beberapa hari yang lalu mau tak mau saya berhenti pada sebuah judul. Newspaper is Dead! Artikel yang ditulis oleh Asrul Ananda –putra Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos- ini membahas mengenai eksistensi media cetak di era digital. Dimana dengan adanya akses internet, informasi mengalir dengan mudah dengan kecepatan tinggi. Kebaruan informasi ini jelas sulit ditandingi oleh media cetak seperti koran. Hal ini berakibat pada terus menurunnya oplah koran.

Sementara itu tingginya biaya produksi untuk percetakan tentu saja adalah salah satu tidak dapat diacuhkan begitu saja. Untuk menghadapi hal tersebut salah satu strategi yang diterapkan oleh Media cetak adalah dengan membuat versi digital koran mereka. Dimana akses membaca koran melalui internet menjadi bebas dan tidak berbayar, dan koran akan merpertahankan kelangsungan organisasinya dari pendapatan iklan.

Menemukan 2 versi koran –cetak &digital- merupakan hal yang lumrah sekarang. Kemarin, sehari setelah membaca artikel tersebut, saya menemukan iklan mengenai versi digital koran kompas yang dapat diakses melalui : www.kompascetak.com. JawaPos sendiri, koran yang menurunkan artikel soal Newspaper is Dead! ini juga memPDFkan korannya di http://versipdf.jawapos.co.id/

Hari ini saya mencoba mengakses kedua sistus tersebut, menarik juga ternyata mengakses halaman per halaman versi digital sebuah koran. Dalam percobaan tersebut, salah satunya koran berbasis web tersebut dilengkapi dengan animasi yang seakan membuat halaman benar2 membalik seperti saat membalik koran versi cetak.

Saya sendiri belum benar-benar bisa membayangkan ketika koran versi cetak benar2 tidak ada, dan berganti dengan koran berbasis web sebagaimana yang dituangkan dalam artikel tersebut. Sulit rasanya memisahkan koran cetak dengan interaksi dan sisi emosional yang terjadi disekitarnya.

Waktu saya kecil saya suka duduk dipangkuan ayah saya yang membaca koran melihat tangan beliau yang begitu besar -untuk ukuran saya waktu itu- membolak-balik koran, kertas yang begitu lebar yang ketika saya rentangkan tangan kecil saya tidak cukup lebar untuk memegang sisi kiri dan kanannya bersamaan.

Namun ketika saya bayangkan kembali, barangkali bila tiba versi digital koran tersebut nanti, seorang anak akan duduk di pangkuan orang tuanya di depan sebuah laptop sambil mendengar cerita kedua orang tuanya dengan pandangan yang kagum akan cerita-cerita luar biasa yang terangkum dalam sebuah koran.

Digital atau tidak, saya yakin interaksi dan sisi-sisi emosional manusia akan selalu beradaptasi dan menemukan bentuknya…

Berhenti…

Seorang kawan berkata

“kamu perlu berhenti sejenak”

Lalu waktu itu saya pun berhenti, berhenti membendung segala perasaan yang entah kenapa datang pada saat yang bersamaan. Saat dimana saya sadari saya tak cukup kuat untuk menampung segalanya pada waktu yang sama. Ibarat cawan yang terlampau penuh, maka meluaplah…

Meluap namun tak jua lenyap…

Merapuh dan luluh…

Benar saya perlu berhenti, berhenti agar saya bisa merasa, segala perasaan yang saya anggap sirna dan terlupa. Tapi ternyata ada. Ada disana dan muncul perlahan. Apa yang saya coba sembunyikan, apa yang saya simpan rapat-rapat…

Sepertinya saya menipu diri sendiri

Bermain kucing-kucingan dengan emosi pribadi

Dan kali ini saya tertangkap basah…

Tak lagi bisa menghindar, tak ada jalan keluar

Tapi apa gunanya melawan perasaan sendiri?

Maka saya berhenti…..

Berhenti…

Dan mengumpulkan kepingan hati…

Luka hati yang kubawa berlari

“Hingga hilang pedih perih” *

—-

*mengutip "Aku" puisi Chairil Anwar

Cafeine itu butuh teman dan lawan berperang

Jadi minum kopi jangan sendiri

Harus cari kawan untuk berbincang

Karena pahit manis hidup musti menyatu disini …

Seperti biasa, lagi nongkrong minum kopi dengan seorang kawan pembela kebenaran dan idola remaja indonesia …si Subiyanto…ato nama gaul: Subix

Subix : Nis…

Gw : hmm?

sambil mengaduk2 isi tas punggung subix yang segede gaban, tas yang selalu membuat orang terobsesi melihat apa isinya dan membuat si pemakai terlihat seperti kura-kura ninja

Subix : Jadi sekarang elu lagi jalan sama siapa?

Gw : gw? Umm…jomblo aja…

Tiba2 nemu drum stick dan mainan kubus yang masing2 sisi terdiri atas warna yang berbeda dan sembilan kotak kecil yang bisa diputar-putar (Bix…isi tas elu…ajaib banget)

Subix : (sambil mainan kubus yang tadi) lah gosipnya elu ganti2 pacar…

*hah?!* Buset dah!

Sebagai artis (ngarep) hidup gw emang bergelimang gosip *tsah* … contohnya pas jaman kuliah dulu tiba2 entah kenapa dosen2 gw bergosip (serius…dosen…gw taunya karena salah satu dosen, mengkonfirmasi gosip tersebut ke gw) bahwa gw lagi jalan dengan salah satu senior gw angk 92. and for your information, saat itu gw adalah angkatan 99 yang imut lucu dan menggemaskan berumur 18 tahun dan si senior gw berumur 28 tahun *geleng-geleng kepala*

Yang para dosen itu ngga tau, adalah waktu itu gw sebenarnynya jadian ama senior gw angk 95 kawan si angk 92 yang mana berakibat membuat gw sering terlihat dengan si angk 92 (bu dosen…pak dosen… maap agaknya gosip anda2 meleset ke arah yang keliru, mhuahahaahhahaah)

Nah weekend kemaren gw sempat reuni mini ama senior2 gw itu, ngobrol kesana kemari ngga jelas sambil makan yakiniku dan shabu–shabu secara kalap dan biadap di hanamasa ditemani capuccino dingin… dan hasil reuni tsb: keknya gw + dua orang lainnya keracunan capuccino sehingga terserang insomnia tahap akut, huhuhuhuhu….

Diantara percakapan2 ngga jelas itu, mas Oji, senior gw angk 92 –yep benar sekali, dialah korban gosip salah arah dosen2 gw- berkata:

"Kadang gitu ngga kerasa umur udah 36 gini, yo wis gini ini, palingan cuman rambut makin banyak ubannya, ngga ada perubahan, kalo ngga inget tahun, aku masih mikir ini tahun 2001"

Kok ya pas gitu, siangnya sebelum reuni mini itu, gw ngobrol ama temen kantor gw soal umur juga… dia bilang "ngga kerasa ya nis…umur kita ud 26 tahun, tapi kok ya perasaaan masih gini2 aja, ngga ada perubahan yang signifikan"

Wahai Nurul temanku tersayang, sungguh engkau tak perlu berubah secara radikal dan menjadi kuda lumping di usia ke 27 nanti hanya untuk mengejar perubahan yang signifikan hahahahahaah =P

Tapi pernah ngerasa ngga…waktu kita kecil melihat segala sesuatu nampak begitu besar, tampak luar biasa, tampak menakjubkan…dan begitu waktu berlalu, umur bertambah, kita menjadi terbiasa dengan segala sesuatu, dan semuanya tampak biasa saja, tidak menakjubkan, tidak juga terlalu mengejutkan, hanya…biasa…itu saja.

Pas waktu umur belum nyampe 20, liat orang dengan usia 20 keatas kayaknya gimana gitu…tapi begitu kita sendiri mencapai umur segitu kayaknya biasa aja…ngga heboh2 amat…ngga dewasa2 amat…ngga beda2 amat…hehehe =P

Berkenaan dengan hal tersebut, gw dengan bangga menurunkan 2 analisis:

1. anda sudah masuk ke zona yang kelewat nyaman

2. anda memang berjiwa muda, jadi ngerasa masih muda aja gitu… :)

(hweheheeheh, analisis ngga penting banget yakkkkk)

Gw pastinya memilih berada di nomer dua, dikalangan orang2 berjiwa muda, merasa muda serta senantiasa imut, lucu dan menggemaskan *narsis* huehehehehe, Aniwey menurut gw pribadi, begitu menginjak usia twenty-something perbedaan mendasar justru bukan berasal dari diri sendiri tapi lebih ke perilaku orang-orang disekitar gw yang antara lain tiba-tiba menjadi peduli soal issue married…

Gw yang beberapa kali dicecar pertanyaan seputar kapan kawin, berhasil kabur dengan suksesnya menggunakan alasan (btw trik ini boleh ditiru)

"yaoloh…sapi terbang…." –> nunjuk kearah jendela trus menyelinap pelan2

ATAU

"waahhh…sinetronnya bagus banget yach…hujyan, becyek ngga ada ojyek lohhh…" –> sambil pasang muka seolah terpesona berlebihan liat monitor TV

Dan orang2 itu tertipu dengan nistanya…. Gyahahahahahah

Sebenarnya kalo dipikir2 pada tahapan tertentu dalam kehidupan kita *ceila bahasanya* selalu saja ada pertanyaan yang mengiringi….

Pas elu lagi kuliah pertanyaannya adalah "kapan lulusnya?"

Pas elu lulus "kapan kerjanya?"

Pas elu kerja "kapan kawinnya?"

Pas elu kawin "kapan punya anaknya?"

Pas elu punya anak "kapan anak elu kawinnya"

Hiyaaaaaaaaaaaaaaaa! Gedubrak!

Siklus yang ngga berhenti2: Lahir – Kawin – Beranak

Loh kok…mirip banget ama kucing *ekstrim* heheehehheeheh

Nah karena titik beratnya nampaknya pada tiga hal tersebut, otomatis pembicaraan dan gosip2 yang beredar juga ngga jauh dari itu…

Contoh kasus: beberapa waktu lalu tiba2 senior kuliah gw yang lain add YM ID gw gitu, trus ngobrol2 ringan soal gimana kabar dan sebagainya hingga pada pertanyaan yang membuat gw bengong seketika:

Senior : anak berapa, Nis?

Gw : hah?!

Senior : loh kan denger2 gosipnya katanya elu udah kawin…

*mampus kuadrat!*

Semoga para gossiper yang hobi membuat gw jadi topik hangat perbincangan tiba2 keterima jadi presenter infotainment, dan oleh karenanya gw mendadak jadi artis ternama, huehehehehe

In the mean time gw musti belajar menerima bahwa kehidupan gw sebagai artis (ngaco!) yang bergelimang gossip *tsah* terus berlanjut…

Toh… klarifikasi bisa saja terjadi sembari meneguk kopi dan ngobrol sana-sini ….

He he he he

Older Posts »